Mengenal Laporan Keuangan Sesuai Standard Akuntansi Syariah Beserta Studi Kasusnya

Di zaman ini persaingan antar bisnis makin gencar dilakukan para pelaku bisnis. Salah satu yang paling kompetitif adalah pemilik bisnis berbasis konvensional dan syariah. Sebenarnya, baik konvensional maupun syariah, keduanya memiliki konsep laporan keuangan yang hampir sama. Keduanya tetap memiliki laporan laba rugi, laporan perubahan modal, laporan neraca dan sebagainya.

Seperti halnya laporan keuangan dalam perusahaan berbasis konvensional, sistem laporan keuangan akuntansi perusahaan syariah sudah berkiblat sesuai dengan Penyajian Laporan Keuangan Syariah (PSAK 101) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia (DSAK IAI) pada 27 Juni 2007.

Sesuai dengan ketetapan tersebut, isi laporan keuangan syariah masih hampir sama dengan laporan keuangan konvensional yang meliputi laporan posisi keuangan, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, penghasilan komprehensif lainnya, laporan arus kas serta catatan atas laporan keuangan.

Bentuk laporan yang hampir sama tersebut dikarenakan PSAK 101 masih tetap berorientasi pada profit. Standard laporan keuangan syariah ini digunakan oleh perusahaan nirlaba syariah, perusahaan/ bisnis sektor publik hingga pemerintah. Laporan tersebut digunakan untuk melakukan penyesuaian pada segala perubahan dan catatan transaksi dalam masing – masing jurnal laporan keuangan.

Dalam PSAK Syariah, segala transaksi keuangan yang dilakukan dengan sistem syariah terdiri atas:

  • Laporan Keuangan Syariah
  • Akutansi Murabahah
  • Musyarakah
  • Mudharabah
  • Istishna

Laporan Keuangan Syariah

Laporan keuangan syariah merupakan bentuk penyajian segala bentuk transaksi dan nominal akhir keuangan dan kinerja keuangan suatu perusahaan perusahaan yang berbasis Syariah. Sesuai dengan PSAK No. 101, salah satu fungsinya adalah mengatur pembuatan laporan keuangan untuk tujuan umum atau general purpose financial statements yang sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) untuk segala bidang usaha berbasis Syariah.

Akuntansi Murabahah

Murabahah merupakan akad ketersediaan barang sesuai dengan prinsip dasar jual beli. Yaitu penjual membeli kebutuhan atau barang kemudian menjualnya kembali kepada konsumen mereka dan besar keuntungan serta harga sudah disepakati bersama.

Rukun Murabahah

  • Penjual dan pembeli
  • objek yang dijual belikan
  • akad (shighat)

Syarat Murabahah

  • Konsumen berhak diberi tahu biaya modal yang dibutuhkan penjual untuk membeli barang yang akan di jual ke konsumen
  • Kontrak jual beli bebas riba
  • kontrak jual beli harus memenuhi rukun murabahah
  • Pembeli harus diberi tahu jika barang yang di jual terdapat cacat
  • Penjual memberi tahukan segala hal yang berhubungan dengan pembelian. Bahkan jika penjual masih hutang dalam membeli barang

Musyarakah

Musyarakah artinya berunding untuk menyepakati sesuatu agar mendapatkan keputusan terbaik, tak terkecuali transaksi jual beli. Namun jika keputusan bersama belum juga didapatkan, maka dapat dilakukan dengan mengambil suara terbanyak atau voting.

Persyaratan voting:

  • Dilakukan ketika musyarawah tidak menghasilkan kata mufakat
  • Dilakukan ketika musyawarah tidak mungkin menghasilkan satu kesepakatan karena adanya perbedaan pendapatan yang tidak mungkin disatukan
  • Waktu menghasilkan kata mufakat hanya sedikit
  • Sebelum voting dilakukan, semua peserta musyawarah harus tahu pendapat yang berbeda dan mengetahui pilihan voting.

Istishna

Istishna’ merupakan proses jual beli dimana pembeli melakukan pemesanan barang tertentu dan penjual harus membuat barang pesanan terlebih dahulu atau biasa disebut pre order. Kriteria serta persyaratan transaksi harus disepakati baik pihak pembeli maupun penjual.

Karena sudah ada transaksi penesanan, penjual harus menyediakan barang sesuai dengan kriteria dan segala ketentuan termasuk spesifikasi barang pesanan, waktu pembuatan serta harga, yang telah disepakati bersama.

Berdasarkan PSAK No. 101, laporan keuangan yang lengkap untuk perusahaan berbasis syariah terdiri dari:

  1. Laporan neraca
  2. Laporan laba dan rugi
  3. Laporan arus kas
  4. Laporan perubahan ekuitas
  5. Laporan perubahan dana investasi terkait
  6. Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil
  7. Laporan sumber dan Penggunaan dana zakat
  8. Laporan sumber serta penggunaan dana kebajikan
  9. Catatan laporan keuangan

Dalam pengaplikasiannya, laporan neraca, laba dan rugi, arus kas dan laporan perubahan ekuitas merupakan keseluruhan laporan keuangan yang merupakan kegiatan komersil perusahaan. Sedangkan laporan perubahan dana investasi adalah laporan keuangan yang menunjukkan jika ada perubahan investasi untuk azaz manfaat pihak – pihak yang terkait berdasarkan akad mudharabah maupun agen investasi. Selanjutnya laporan rekonsiliasi pendapatan serta bagi hasil adalah penyesuaian antara pendapatan suatu perusahaan dengan menggunakan dasar akrual dan pendapatan yang di bagi hasil ke konsumen menggunakan dasar kas. Untuk laporan sumber serta penggunaan dana zakat, dana kebajikan adalah laporan keuangan yang mencatat peran perusahaan yang berperan sebagai badan maal atau menjalankan amanah perpanjangan tangan masyarakat atau konsumen untuk kegiatan sosial. Laporan dan pelaksanaan kegiatan seperti ini dilakukan dan di catat secara terpisah.

Tujuan Penulisan Laporan Keuangan Syariah

Laporan keuangan syariah bertujuan untuk menyajikan sehala informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan transaksi – transaksi lainnya yang mempengaruhi perubahan nominal atau jumlah akhir dari perusahaan berbasis Syariah. Dengan dibuatnya laporan keuangan syariah ini, maka perusahaan tersebut akan lebih mudah mengambil segala keputusan ekonomi sekaligus menunjukkan tanggung jawaban manajemen yang telah dipercayakan kepada mereka.  

Hal – Hal Penting dalam Penyajian Laporan Keuangan Bebasis Syariah

Untuk menuliskan atau mempresentasikan data keuangan perusahaan berbasis syariah, berikut beberapa hak yang perlu diperhatikan dalam menyajikan laporann keuangan syariah yang perlu diperhatikan:

Penyajian Laporan Keuangan yang Wajar

Laporan yang dibuat harus disajikan dengan posisi keuangan perusahaan, arus kas, dan kinerja keuangan lainnya dengan wajar. Untuk melakukannya, baiknya semua laporan keuangan dibuat dengan menerapkan Standar Akuntansi Keuangan dengan benar.

Pengaplikasian Segala Kebijakan Akuntansi

Tugas dari manajemen yang mengatur laporan keuangan adalah memilih serta menerapkan berbagai kebjakan keyangan sehingga laporan keuangan tersebut memenuhi ketentuan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Karena Kebijakan akuntansi merupakan prinsip, konvensi, aturan, dasar serta praktek yang digunakan oleh perusahaan berbasis syariah untuk menyusun dan menyajikan laporan keuangan.

Keberlangsungan Usaha

Dalam menyusun laporan keuangan yang bebasis syariah, badan ini tetap saja merupakan sebuah badan usaha. Maka pihak manajemen tetap harus menilai kelangsungan usaha berbasis syariah ini. Maka dari itu, selain penyajian segala laporan transaksi keuangan, juga harus dinilai kelangsungan usaha.

Dalam penyusunan laporan keuangan, penilaian kelangsungan usaha harus dinilai sehingga pemilik usaha memiliki perkiraan kelangsungan usahanya. Perkiraan yang tidak pasti namun bersifat material yang berhubungan dengan kondisi finansial usaha tersebut harus diungkapkan.

Berdasarkan Dasar Akrual

Perusahaan berbasis syariah harus membuat laporan keuangan berdasarkan atas dasar akrual. Dimana penghitung segala transaksi keuangan menggunakan azas bagi hasil usaha sesuai dengan pendapatan  yang sebenarnya terjadi atau cash basis

Penyajian Laporan yang Konsisten

Konsistensi adalah kunci keberlangsungan dan ciri khas suatu perusahaan, tak terkecuali laporan keuangan perusahaaan berbasis syariah.